Friday, February 11, 2011

STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KAWASAN SITUS TALUN, KABUPATEN SUBANG

Kawasan situs Talun mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki meliputi sektor tinggalan budaya dan keadaan alam. Peluang pengembangan wisata dapat dilakukan secara terpadu antara wisata budaya dan wisata hiburan. Dalam pengembangannya perlu skenario dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.


Abstract


The site area of Talun has potential for developed as tourism destination. That potential comprises cultural remain and landscape. Opportunity to develop of tourism to do integrated between cultural tourism and comfort tourism. To develop must have scenario with consider strength, weaknesses, opportunities, and threats.


Kata kunci: pengembangan, wisata, budaya, telaga, kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman


Pendahuluan

Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang berada di daerah pantai utara. Wilayah Kabupaten Subang luasnya 2.051,76 km² terbentang pada posisi 6 1” – 6 49” LS dan 107 31” – 107 54” BT. Kondisi geografis terdiri dari dua wilayah yaitu di utara merupakan pedataran rendah yang langsung mengarah ke Laut Jawa dan wilayah selatan merupakan pedataran tinggi bergunung. Wilayah utara cenderung merupakan kawasan sentra perdagangan. Hal ini karena wilayah itu dilintasi jalur pantura yang merupakan salah satu jalur paling sibuk di Pulau Jawa. Di wilayah ini terdapat dua kota kecamatan yaitu Ciasem dan Pamanukan. Wilayah selatan merupakan sentra perekonomian yang berbasis pada sektor agraris. Subang wilayah selatan banyak terdapat area perkebunan seperti karet dan teh. Di samping itu Subang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil buah nenas yang dikenal dengan nama nenas madu. Nenas madu dapat ditemui di sepanjang Jalancagak yang merupakan persimpangan antara Wanayasa - Bandung - Sumedang dan Kota Subang sendiri.

Wilayah selatan Subang juga merupakan kawasan wisata khususnya wisata alam yang didukung dengan wisata agro. Di antara perkebunan teh di daerah Ciater, terdapat objek wisata sumber mata air panas. Selain itu juga terdapat wisata alam air terjun Curug Cijalu yang terletak di daerah Sagalaherang dan Curug Cileat di Kecamatan Cisalak (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang). Potensi wisata di wilayah selatan ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan mengembangkan objek wisata budaya. Salah satu objek wisata budaya yang sudah cukup dikenal adalah wisata ziarah makam Arya Wangsa Goparana. Tokoh ini dipercaya sebagai putra Sunan Wanaperi, raja Kerajaan Talaga, yang menjadi penyebar Islam di Sagalaherang. Makam Arya Wangsa Goparana terdapat di Blok Karang Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang (Munandar, 2007: 107 – 109; Kusma 2007: 21 – 22).

Selain makam Arya Wangsa Goparana, beberapa objek arkeologi telah ditemukan di wilayah Sagalaherang. N.J. Krom dalam Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914 mencatat adanya tinggalan arkeologis antara lain berupa mangkuk, piring, pinggan, dan baki perunggu yang ditemukan di Cijengkol. Di Desa Batu Kapur pernah juga ditemukan benda arkeologis berupa arca Maitreya dari perak. Di Sindangsari pernah ditemukan senjata upacara dari perunggu (Krom, 1915: 36 – 37). Di Museum Sri Baduga Bandung terdapat koleksi arca nandi berasal dari Dusun Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang. Pada bulan Oktober 2006 yang lalu telah ditemukan benda perunggu yang sangat langka. Benda itu ditemukan di Kampung Tangkil, Desa Cintamekar, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya, benda sejenis ini ditemukan hanya dua, yaitu di Kerinci dan di Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti periuk berleher panjang tetapi tipis. Di bagian tepi terdapat tonjolan yang di tengahnya berlobang, mungkin sebagai tempat tali untuk mengikat sebagaimana tempat ikan dari anyaman bambu yang diikatkan di pinggang (Munandar, 2007: 104; Kusma 2007: 10).

Banyaknya data arkeologis yang ditemukan di wilayah Subang selatan, menunjukkan bahwa wilayah tersebut menyimpan informasi sejarah budaya yang sangat menarik untuk diketahui. Keberadaan benda-benda tersebut mungkin ada kaitannya dengan situs Talun di Desa Talagasari yang juga termasuk di wilayah Kecamatan Sagalaherang. Situs Talun dan data pendukung yang menyediakan informasi masa lampau daerah Sagalaherang ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata khususnya wisata budaya di wilayah tersebut. Agar hasilnya dapat maksimal maka perlu strategi pengembangan melalui analisis potensi dan masalah yang ada.


Konsep Dasar Pengembangan Wisata

Peluang pengembangan wisata di Kampung Talun pada umumnya berbasis pada wisata terpadu dengan memanfaatkan tinggalan budaya dan potensi alam. Budaya dan alam merupakan dua hal yang selalu mengusik rasa keingintahuan manusia. Rasa ingin tahu ini mendorong seseorang untuk mengadakan perjalanan (Pendit, 1994: 217 – 218). Perjalanan yang dilakukan seseorang apabila tidak disertai dengan perasaan ingin tahu maka akan tidak memberi arti kepada dirinya sendiri. Pada hakekatnya perjalanan adalah alat untuk mencapai emansipasi diri, intelegensia, dan jiwa pada seseorang. Emansipasi pribadi yang menyangkut tiga hal itu lazim disebut personal culture atau subjective culture. Personal culture dihasilkan dari dan oleh pengetahuan serta pengalamannya dalam melakukan perjalanan. Pemikiran inilah yang melandasi pengembangan kepariwisataan yaitu bertujuan untuk peningkatan emansipasi wisatawan, sehingga wisatawan harus mendapatkan gambaran yang baik dan lengkap tentang apa yang dilihat, dikunjungi, dan dinikmatinya untuk mencapai emansipasi diri.

Ada beberapa hal yang ingin diketahui wisatawan. Berdasarkan hasil pooling yang dilakukan Pacific Area Travel Association (PATA) terhadap wisatawan Amerika Utara menunjukkan sektor kebudayaan merupakan yang paling ingin diketahui. Lebih dari setengah wisatawan yang mengadakan kunjungan ke Asia dan kawasan Pacific tertarik pada pengetahuan tentang adat istiadat, kesenian, sejarah, bangunan kuna, dan peninggalan-peninggalan purbakala lain (Pendit, 1994: 219). Keingintahuan manusia terhadap peninggalan purbakala memang sangat beralasan. Pada peninggalan purbakala terdapat informasi mengenai identitas budaya. Suatu unsur penting identitas budaya adalah kesadaran sejarah yang dimiliki bersama suatu bangsa. Kesadaran sejarah itu akan membawakan ingatan akan asal-usul budaya, peristiwa yang telah dialami, dan harapan di masa depan (Sedyawati, 1992/1993: 23). Oleh karena itu pengetahuan tentang masa lampau sangat menjadi kebutuhan manusia berbudaya, sehingga mengetahui masa lampau merupakan salah satu hak asasi manusia yang dalam (Mc Gimsey, 1972: 5). Berdasarkan pemikiran tersebut, konsep pengembangan pariwisata sangat perlu menyertakan sektor budaya, demikian juga dalam konsep pengembangan pariwisata di situs Talun.


Lokasi situs Talun

(modifikasi dari peta Provinsi Jawa Barat.

Penerbit: C.V. Indo Prima Sarana, Surabaya, tanpa tahun)


Objek Arkeologis di Situs Talun

Kampung Talun di mana terdapat situs Talun berada agak jauh dari jalan utama. Lokasi ini dapat ditempuh dari kota Subang melalui jalan raya arah Bandung, hingga Jalancagak. Dari sini kemudian melalui jalan alternatif menuju Wanayasa dengan melewati Sagalaherang. Pada perkebunan teh di sebelah barat Sagalaherang, selanjutnya ke arah utara dengan melewati jalan desa yang sudah beraspal hingga Kampung Talun.

Situs Talun berada pada suatu dataran bergelombang dengan ketinggian antara 200-650 m dari permukaan laut. Situs berada di ujung selatan kampung, atau sekitar 200 m di sebelah barat jalan desa, tepatnya pada posisi 06º 38’ 02,3” LS dan 107º 37’ 32,7” BT dengan ketinggian lokasi sekitar 454 m dpl. Secara Geografis kawasan Kampung Talun dikelilingi oleh beberapa bukit (pasir), yaitu di sebelah tenggara kampung terdapat Pasir Cibadakpasea (475 m), dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Nyomot (640 m).

Situs Talun pertama kali mendapat perhatian dunia arkeologi pada sekitar bulan November 1993. Penelitian secara sistematis baru dilaksanakan pada tahun 2006 oleh Balai Arkeologi Bandung dan pada tahun 2007 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang. Rangkaian penelitian ini merupakan suatu perhatian terhadap aktivitas kelompok masyarakat yang menaruh perhatian pada peninggalan purbakala dan melakukan penggalian di situs tersebut. Penggalian itu telah menampakkan struktur bata membujur arah utara-selatan terdiri dua lajur sepanjang 6,80 m. Ujung utara dan selatan merupakan bagian sudut yang bersambung dengan struktur melintang arah timur-barat. Struktur melintang di bagian utara dan selatan masing-masing juga terdiri dua lajur. Pada struktur bagian utara terlihat terdiri lima lapis bata, sedang bagian selatan belum seluruhnya terlihat.

Penelitian yang dilakukan Balar Bandung dalam bentuk ekskavasi dengan mengacu pada struktur bata yang telah tersingkap. Ekskavasi dilakukan di sebelah timur struktur bata, hingga mencapai kedalaman sekitar 1,5 m. Hasil ekskavasi telah menampakkan sisa struktur bata pada kedalaman 1,30 m terdiri dua unit. Unit pertama berada di sisi barat merupakan fondasi (batur) bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 7 x 7 m dengan struktur lantainya. Unit kedua ditemukan di sebelah timur unit pertama berupa struktur bata rolak yang belum ditampakkan secara keseluruhan.



Struktur bata yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2006
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)



Struktur lantai yang terlihat jelas terdiri tiga lapis. Lapisan paling atas, bata disusunan memanjang barat-timur, lapisan di bawahnya disusun memanjang utara-selatan, dan lapisan bata paling bawah disusun memanjang barat-timur. Teknik penyusunan bata tidak terlihat menggunakan lapisan perekat. Jarak antar bata (nat) sangat sempit. Perekat antar bata diperkirakan berupa tanah liat halus. Permukaan bata dibuat secara halus sehingga memungkinkan penyusunan secara sempurna. Struktur bata dalam posisi tegak (rolak) juga disusun dengan jarak sangat sempit. Lapisan perekat antar bata tidak terlihat secara tegas.

Selain struktur bata juga ditemukan artefak penting lain berupa fragmen keramik putih biru yang ditemukan di bawah konsentrasi fragmen bata pada kedalaman sekitar 60 cm. Fragmen tersebut merupakan pecahan mangkuk dari Cina masa dinasti Ming (abad ke-14 – 17). Fragmen keramik lainnya ditemukan pada kedalaman 77 cm, yang merupakan fragmen bagian badan berwarna putih. Fragmen keramik ini berasal dari Cina masa dinasti T’ang (abad ke-7 – 10) dari bentuk buli-buli (Saptono, 2007: 20 – 23).


Sturktur bata sisi selatan yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2007
(Dok. Nanang Saptono)


Penelitian 2007 oleh Disbudpar Kabupaten Subang pada dasarnya melanjutkan hasil penelitian Balar Bandung. Penelitian dalam bentuk ekskavasi ini dilakukan dalam upaya menampakkan struktur bata rolak yang telah tersingkap pada waktu penelitian 2006. Secara umum ekskavasi 2007 berhasil menampakkan struktur bata sisi timur dan selatan (Tim Penelitian, 2007). Struktur bata sisi timur berupa susunan bata rolak terdiri dua lajur dalam orientasi utara – selatan. Bata disusun tanpa menggunakan lapisan spesi, namun di antara bata terdapat celah tipis. Kondisi demikian memungkinkan penggunaan lapisan perekat seperti misalnya tanah liat. Ujung selatan struktur tersebut bertemu dengan struktur sisi selatan yang berorientasi timur – barat. Bagian sisi ini susunan bata terdiri tiga lajur dengan orientasi timur – barat agak miring ke arah utara. Ujung barat struktur bata tersebut terputus dengan demikian belum dapat dipastikan bahwa struktur berakhir pada titik tersebut. Dengan memperbandingkan jarak antara struktur lantai hasil ekskavasi Balar Bandung 2006 terhadap sudut tenggara struktur, dapat diduga bahwa ujung barat sisi selatan bangunan yang juga merupakan sudut baratdaya berada di titik tersebut.

Ekskavasi 2007 juga menemukan fragmen keramik asing bagian tepian dari bentuk mangkuk. Secara utuh, diameter mangkuk 21 cm. Ciri fisik yang terlihat terbuat dari bahan stoneware. Hiasan berwarna hitam di bawah glasir. Motif hias berupa garis-garis sejajar membentuk pola tumpal dan floral. Ciri semacam ini menunjukkan berasal dari Sukotai, Thailand. Keramik demikian diproduksi pada sekitar abad ke-14 – 15 M (Adhyatman, 1990: 75).

Struktur bata yang terdapat di situs Talun, secara keseluruhan terdiri dua jenis. Penelitian 2006 menemukan struktur lantai, demikian juga struktur yang tersingkap akibat aktivitas penggalian masyarakat juga dapat diduga sebagai lantai. Pada penelitian 2007 telah ditemukan struktur bata dalam susunan rolak berada di sebelah selatan struktur lantai. Struktur bata dalam susunan rolak tersebut merupakan sisi selatan dan timur bangunan. Sementara ini sisi barat dan utara belum ditemukan. Memperhatikan kondisi lahan di sekitar temuan, kemungkinan besar struktur sisi barat dan utara sudah rusak total.

Bentuk bangunan secara utuh belum dapat digambarkan. Berdasarkan data yang sudah ada, terlihat adanya struktur lantai berukuran sekitar 7 x 7 m dikelilingi struktur dalam susunan rolak. Biasanya struktur rolak diterapkan pada bagian fondasi bangunan. Lebar susunan yang mencapai lebih dari 60 cm meragukan bahwa bagian tersebut merupakan fondasi. Kemungkinan bagian susunan bata rolak adalah semacam jalan yang mengelilingi ruangan berlantai bata, atau batas luar ruangan berlantai bata. Secara keseluruhan unit bangunan tersebut berukuran sekitar 13 x 13 m. Mengingat bata yang ditemukan dalam jumlah yang sedikit, dapat diduga bagian atas bangunan (tubuh dan atap) terbuat dari bahan yang mudah rusak (kayu). Bentuk bangunan mungkin merupakan semacam pendapa terbuka tanpa dinding. Bangunan dengan bentuk semacam ini misalnya terdapat di komplek Siti Hinggil Keraton Kasepuhan, Cirebon. Di kompleks tersebut terdapat bangunan yang disebut Semar Kinandu. Bangunan ini terbuka tanpa dinding dengan fondasi ditinggikan. Atap empat persegi pada puncaknya berbentuk limas. Atap disangga empat tiang. Fungsi bangunan sebagai tempat penghulu keraton jika ada audiensi di Siti Hinggil (Ambary, 1982: 77; Nur, 2006: 7).


Potensi dan Permasalahan Situs Talun

Situs Talun merupakan objek arkeologi yang sangat langka yang ditemukan di Subang selatan. Kawasan Subang selatan selama ini banyak mempunyai objek wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Situs Talun mungkin dapat dikembangkan sebagai objek wisata khususnya wisata budaya. Untuk mengetahui potensi yang disandang situs tersebut perlu dilakukan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats) terhadap situs Talun. Model analisis SWOT pernah diujicobakan Muhammad Chawari terhadap pemanfaatan bangunan tradisional Jawa di Kampung Kauman, Yogyakarta bagi pengembangan pariwisata (Chawari, 2004: 112 – 127). Analisis SWOT mengkaji potensi berdasarkan dua faktor utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi keluaran kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Sedangkan faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Analisis SWOT dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang kemampuan objek dalam rangka pengembangan kepariwisataan. Melalui analisis ini akan dihasilkan skenario pengembangan pariwisata di situs Talun.



Telaga di Kampung Talun. Potensi wisata yang belum dikembangkan

(Dok. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang)


Kekuatan (strength) yang disandang situs Talun diantaranya adalah objek tinggalan berupa struktur bata yang ada hubungannya dengan sejarah Kerajaan Taruma atau Kerajaan Sunda. Informasi tentang masa lampau ini ditunjang pula dengan beberapa tinggalan yang pernah ditemukan di wilayah itu, dengan demikian situs Talun akan dapat memberikan banyak informasi tentang masa lampau Jawa Barat khususnya Subang. Selain itu posisi situs yang berada di pinggir jalan juga merupakan faktor positif bagi situs Talun. Akses menuju situs Talun sangat mudah ditempuh dari Kota Subang. Kondisi jalan pada saat ini sudah beraspal meskipun belum berkualitas hotmix. Prasarana transportasi ini akan memudahkan orang untuk mengunjunginya. Daya tarik daerah juga didukung adanya telaga yang dijadikan ikon nama desa yaitu Talagasari. Di talaga ini pada waktu-waktu tertentu diadakan wisata hiburan khususnya memancing. Kaitannya dengan daya tarik kunjungan juga ada dua lokasi makam yang dikeramatkan yaitu Sanghyang Teteg yang berada di tepi telaga dan makam Ratna Inten Sari.

Kelemahan (weaknesses) situs Talun yaitu objek utama belum dapat dinikmati. Struktur bata yang dapat dijadikan andalan objek masih dalam tahap penelitian. Informasi akademik tentang masa lampau yang disandang situs Talun masih sebatas pada kalangan tertentu terutama para pendidik dan peneliti. Publikasi yang sudah dilakukan belum menyentuh masyarakat luas, meskipun bagi masyarakat Subang sendiri situs Talun sudah cukup didengar, dikenal, dan diketahui. Daya tarik wisata pendukung seperti wisata hiburan memancing belum dikelola serta diselenggarakan secara rutin dan sering.

Peluang (opportunities) pengembangan situs menjadi objek wisata sangat besar. Kawasan Subang selatan merupakan daerah tujuan wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Promosi wisata ke situs Talun dapat dengan mudah disertakan pada promosi wisata yang sudah ada. Pengembangan situs Talun sendiri sebaiknya dikemas menjadi satu paket dengan objek wisata yang ada. Dalam hal ini wisata di talaga dan beberapa tempat ziarah. Dengan demikian paket wisata yang ada meliputi wisata budaya, wisata alam, wisata agro, dan wisata hiburan.

Ancaman (threats) yang dihadapi pengembangan objek dapat dikatakan relatif kecil. Objek yang ada merupakan aset desa yang secara kecil-kecilan sudah dikelola. Kecuali lahan situs Talun masih merupakan milik penduduk setempat.

Kajian potensi dan permasalahan situs Talun melalui paparan analisis SWOT tersebut dapat disusun beberapa skenario sebagaimana matriks berikut.




Strength

Weaknesess

Opportunities

pengembangan

konsolidasi internal

Threats

pengembangan program

introspeksi


Apabila kekuatan (S) dipertemukan dengan peluang (O) yang terlihat adalah skenario pengembangan, maka objek wisata di Talun berpeluang untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan karena lokasinya dapat dijangkau. Pengembangan ini tentunya harus disertai pula dengan konsolidasi internal. Skenario konsolidasi internal ini diperoleh dengan jalan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan peluang (O). Memperhatikan hal ini perlu dilakukan persiapan pengembangan antara lain melalui pengungkapan struktur bata secara lebih dalam lagi dan perencanaan event atraksi budaya yang dapat diselenggarakan. Selain itu faktor aksesbiltas juga perlu diperhatikan dengan jalan peningkatan mutu prasarana transportasi. Dengan demikian paket wisata yang ditawarkan akan lebih lengkap dan dapat dengan mudah dinikmati semua lapisan masyarakat. Kekuatan (S) yang ada bila dipertemukan dengan ancaman (T) akan muncul skenario penguatan pengembangan program. Salah satu penyelesaian masalah yang dihadapi situs Talun dalam skenario penguatan adalah dilakukannya pengalihan hak atas lahan dari masyarakat menjadi milik negara. Skenario selanjutnya adalah dengan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan ancaman (T). Skenario ini akan melahirkan introspeksi untuk konsolidasi terhadap kebijakan program yang mendesak diwujudkan.


Kristalisasi Gagasan Pengembangan

Kawasan situs Talun mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki berupa tinggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda, makam keramat, serta kondisi alam terutama telaga. Potensi yang ada tersebut agar mempunyai nilai lebih perlu dilakukan beberapa peningkatan melalui penelitian, pengkajian, dan penataan terhadap tinggalan yang ada serta peningkatan penyelenggaraan event wisata yang dengan memanfaatkan kondisi alam yaitu telaga. Dalam hal peningkatan mutu tinggalan arkeologi terdapat kendala yang perlu diatasi yaitu masalah kepemilikan lahan. Oleh karena itu perlu pengalihan hak atas lahan. Beberapa hal tersebut, perlu dilakukan skala prioritas dalam pelaksanaannya sehingga pada akhirnya akan terwujud Kampung Talun sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Subang selatan.


Daftar Pustaka

Adhyatman, Sumarah. 1990. Antique Ceramics Found in Indonesia. Jakarta: The Ceramic Society of Indonesia.

Ambary, Hasan Muarif. 1982. Historical Monuments. Dalam Cerbon. Jakarta: Yayasan Mitra Budaya – Penerbit Sinar Harapan.

Chawari, Muhammad. 2004. Model Pemanfaatan Bangunan Tradisional Jawa Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya (Kasus di Kampung Kauman Yogyakarta. Dalam Berkala Arkeologi Tahun XXIV No. 1/Mei 2004, hlm. 112 – 128.

Kabupaten Subang. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang

Krom, N.J. 1915. Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914. Uitgegeven door het Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht & Co.

Kusma, et al. 2007. Sejarah Kabupaten Subang. Subang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.

Mc Gimsey, Charles R. 1972. Public Archaeology. New York: Seminar Press.

Munandar, Agus Aris (ed.). 2007. Profil Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jawa Barat Dalam Khasanah Sejarah dan Budaya. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat.

Nur, Adin Imaduddin (peny.). 2006. Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.

Pendit, Nyoman S. 1994. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita.

Saptono, Nanang. 2007. Struktur Bata di Situs Talun: Data Permukiman di Kawasan Subang. Dalam Sumijati Atmosudiro (ed.) Selisik Masa Lalu, hlm. 17 – 26. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sedyawati, Edi. 1992/1993. Arkeologi dan Jatidiri Bangsa. Pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, hlm. 23 – 36. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian. 2007. Laporan Hasil Penelitian Situs Talun Desa Talagasari, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.



Catatan: tulisan ini dimuat di buku berjudul "Penelitian dan Pemanfaatan Sumberdaya Budaya", hlm. 133 - 142. Editor: Dr. Supratikno Rahardjo. Penerbit: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Jawa Barat - Banten. Bandung, 2008.

Nanang Saptono
◄ Newer Post Older Post ►
 

© BBC.WEB.ID Powered by Blogger