Thursday, July 4, 2013

MA Kabulkan Pengujian Putusan Presiden Soal Miras Oleh FPI

JAKARTA, suaramerdeka.com - Pengujian Keputusan Presiden (Keppres) 3/1997 tentang Minuman Keras (Miras) yang dimohonkan oleh Front Pembela Islam (FPI) dikabulkan Mahkamah Agung (MA).

"Menyatakan Keppres RI Nomor 3 Tahun 1997 tidak berlaku karena dasar hukum pembentukan telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku," kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur, saat mengutip putusan kasasi di Jakarta, Kamis (4/7).

Ridwan juga mengungkapkan dalam putusan kasasi tersebut juga menyatakan Keppres tidak berlaku karena pertimbangan pembentukannya secara nyata tidak dapat menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban kehidupan masyarakat Indonesia.

"Menyatakan Keppres bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, UU No.36 Th 2009, UU No.8 Th 1999, UU No.7 Tahun 1996," ungkap Ridwan.

Dia juga mengatakan bahwa putusan ini dijatuhkan oleh majelis kasasi yang diketuai majelis hakim Supandi dengan hakim anggota Hary Djatmiko dan Yulius pada 18 Juni 2013. Dengan dibatalkannya Kepres Miras ini, Ridwan mengaku tidak tahu detail teknis penerapan aturan baru.

Dia menegaskan setiap keputusan MA harus diterapkan demi kepastian hukum karena bersifat final dan mengikat. Keppres RI Nomor 3 Tahun 1997 yang terbit pada zaman Orde Baru ini hanya mengawasi minuman keras dengan kadar alkohol di atas 5 persen. Miras dengan kadar alkohol 1-5 persen bebas beredar

( Budi Yuwono / CN37 / SMNetwork )

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad


http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/07/04/163334/MA-Kabulkan-Pengujian-Putusan-Presiden-Soal-Miras-Oleh-FPI
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© BBC.WEB.ID Powered by Blogger